perfectly pervert
[Hari Pelanggan Nasional dan BRI]

Sekitar pukul 08:10 saya telah tiba di pintu masuk BRI, namun belum dapat masuk karena masih ada persiapan sebuah acara di dalam. Ada karyawan dan karyawati yang berpakaian adat Betawi, ada pegawai-pegawai rapi berdasi, dan ada serombongan reporter televisi dengan kamera dan microphone-nya.

Tak lama, security meminta saya untuk masuk dan mengantre supaya dapat dilayani oleh customer service. Dan tak perlu waktu lama, saya sudah berada di depan mbak-mbak customer service yang nampak cerah dan menanyakan keperluan saya. 

Inti dari permintaan saya adalah mengganti buku tabungan yang sudah habis dan kartu ATM karena sudah kedaluwarsa. Sekadar informasi, saya sebelumnya terdaftar sebagai nasabah di Semarang.

Sembari dilayani —dan menunggu mbak CS memfotokopi berkas atau apa, saya tidak tahu— salah seorang petugas mendatangi saya beserta salah satu kru televisi, yang menanyakan kesediaan saya untuk diwawancara mengenai pelayanan pelanggan BRI.

Ah, rupanya hari ini adalah Hari Pelanggan Nasional! 

Saya menolaknya dengan halus, alasannya: (1) Saya sedang terburu-buru, dan (2) Ada beberapa SOP dari BRI yang kurang cocok dan sedikit merepotkan saya. Jadi saya rasa, saya lebih baik tidak bersuara. Dan mereka pun berkata “Tidak apa-apa kalau memang terburu-buru.”

Berikutnya, mbak CS kembali di hadapan saya. Membawa buku tabungan baru, dan kartu ATM yang juga baru. Sambil menyiapkan permohonan saya, dia berkata kalau ATM tidak bisa dicetak pakai nama, karena tinta habis.

Saya heran, bagaimana bisa sekelas Kantor Cabang Khusus BRI di Gedung BRI 2 sampai kehabisan tinta. Dan sambil meminta maaf dia menyerahkan kartu ATM yang terdapat bekas cetakan nama saya, karena tinta habis (atau masalah printer).

Saya yang sudah lima tahun lebih menjadi nasabah BRI cuma berkata: “Kok bisa pas ya kejadiannya di Hari Pelanggan Nasional.” dan merasa bahwa tindakan saya menolak wawancara televisi tadi adalah sebuah keputusan yang tepat.

(Post ini boleh disebarkan di berbagai media) – View on Path.

[Hari Pelanggan Nasional dan BRI]

Sekitar pukul 08:10 saya telah tiba di pintu masuk BRI, namun belum dapat masuk karena masih ada persiapan sebuah acara di dalam. Ada karyawan dan karyawati yang berpakaian adat Betawi, ada pegawai-pegawai rapi berdasi, dan ada serombongan reporter televisi dengan kamera dan microphone-nya.

Tak lama, security meminta saya untuk masuk dan mengantre supaya dapat dilayani oleh customer service. Dan tak perlu waktu lama, saya sudah berada di depan mbak-mbak customer service yang nampak cerah dan menanyakan keperluan saya.

Inti dari permintaan saya adalah mengganti buku tabungan yang sudah habis dan kartu ATM karena sudah kedaluwarsa. Sekadar informasi, saya sebelumnya terdaftar sebagai nasabah di Semarang.

Sembari dilayani —dan menunggu mbak CS memfotokopi berkas atau apa, saya tidak tahu— salah seorang petugas mendatangi saya beserta salah satu kru televisi, yang menanyakan kesediaan saya untuk diwawancara mengenai pelayanan pelanggan BRI.

Ah, rupanya hari ini adalah Hari Pelanggan Nasional!

Saya menolaknya dengan halus, alasannya: (1) Saya sedang terburu-buru, dan (2) Ada beberapa SOP dari BRI yang kurang cocok dan sedikit merepotkan saya. Jadi saya rasa, saya lebih baik tidak bersuara. Dan mereka pun berkata “Tidak apa-apa kalau memang terburu-buru.”

Berikutnya, mbak CS kembali di hadapan saya. Membawa buku tabungan baru, dan kartu ATM yang juga baru. Sambil menyiapkan permohonan saya, dia berkata kalau ATM tidak bisa dicetak pakai nama, karena tinta habis.

Saya heran, bagaimana bisa sekelas Kantor Cabang Khusus BRI di Gedung BRI 2 sampai kehabisan tinta. Dan sambil meminta maaf dia menyerahkan kartu ATM yang terdapat bekas cetakan nama saya, karena tinta habis (atau masalah printer).

Saya yang sudah lima tahun lebih menjadi nasabah BRI cuma berkata: “Kok bisa pas ya kejadiannya di Hari Pelanggan Nasional.” dan merasa bahwa tindakan saya menolak wawancara televisi tadi adalah sebuah keputusan yang tepat.

(Post ini boleh disebarkan di berbagai media) – View on Path.

suratuntukpakbowo:

Pak Prabowo Yang Terhormat,

Saya yakin anda tahu, kehormatan seseorang tidak dipandang dari sekadar kemenangan, tapi kejujuran.

Saya juga yakin anda punya kejujuran itu.

Sebab meskipun kejujuran bisa diabaikan, Ia tak bisu.

Hormat saya,

Djenar Maesa Ayu

pendek, namun bermakna dalam :)

doebsdoebsdoebs:

Sketch of @arievrahman

Aw! Surprisingly, am look much younger on this sketch, haha! Thank you Doebs! 

doebsdoebsdoebs:

Sketch of @arievrahman

Aw! Surprisingly, am look much younger on this sketch, haha! Thank you Doebs! 

Today, is —supposedly— my parents’ 29th wedding anniversary. A day that we should celebrate with fancy dinner and warm conversation. 

But it was not fancy dinner nor warm conversation, just a little pray for him at his tomb. 

I hope you’re okay there, Dad. Don’t worry, now is my turn to take care of Mom. – View on Path.

Today, is —supposedly— my parents’ 29th wedding anniversary. A day that we should celebrate with fancy dinner and warm conversation.

But it was not fancy dinner nor warm conversation, just a little pray for him at his tomb.

I hope you’re okay there, Dad. Don’t worry, now is my turn to take care of Mom. – View on Path.

== Namanya Juga Tukang Ojek ==

Sebuah truk besar berputar arah di depan gue, dan spontan gue pun memencet rem, supaya berhenti. Dan gue berhenti, tapi tiba-tiba …

BRAK! Disusul dengan pekikan seseorang.

Dari arah belakang sebuah sepeda motor menabrak motor gue, gue gak jatuh, kemudian gue nengok. Seorang pemuda 30-an bertubuh gelap dan berjaket lusuh, sedang memboncengkan pemuda lain yang nampak seperti orang kantoran yang tidak memakai helm.

Dari penampakannya gue berpikir kalau dia tukang ojek. Kemudian dia justru menatap gue kesal, sebelum meminta maaf. 

"Sori Bang." Katanya. Gue balas menatap gue dalam, tanpa perasaan apapun. "Tadi remnya gak pakem." Jelasnya sambil memegang handle remnya yang memang terlihat loose banget. 

Gue cuma bisa bilang “Udah maap doang?” Dan dia pun cuma senyum mamerin gigi kuning kecoklatan khas perokoknya, sebelum meminta maaf sekali lagi dan tancap gas begitu truk besar sudah selesai berputar.

Setelah sampai rumah, gue baru sadar kalau spatbor gue pecah, dan dudukan plat nomornya hancur. Alhasil gue harus cari spatbor baru buat Scoopy.

Yah, namanya juga tukang ojek. Kalaupun bukan tukang ojek, ya kelakuannya yang tukang ojek. 

Semoga gak ngalamin hal yang serupa ya, Bang. – View on Path.

== Namanya Juga Tukang Ojek ==

Sebuah truk besar berputar arah di depan gue, dan spontan gue pun memencet rem, supaya berhenti. Dan gue berhenti, tapi tiba-tiba …

BRAK! Disusul dengan pekikan seseorang.

Dari arah belakang sebuah sepeda motor menabrak motor gue, gue gak jatuh, kemudian gue nengok. Seorang pemuda 30-an bertubuh gelap dan berjaket lusuh, sedang memboncengkan pemuda lain yang nampak seperti orang kantoran yang tidak memakai helm.

Dari penampakannya gue berpikir kalau dia tukang ojek. Kemudian dia justru menatap gue kesal, sebelum meminta maaf.

"Sori Bang." Katanya. Gue balas menatap gue dalam, tanpa perasaan apapun. "Tadi remnya gak pakem." Jelasnya sambil memegang handle remnya yang memang terlihat loose banget.

Gue cuma bisa bilang “Udah maap doang?” Dan dia pun cuma senyum mamerin gigi kuning kecoklatan khas perokoknya, sebelum meminta maaf sekali lagi dan tancap gas begitu truk besar sudah selesai berputar.

Setelah sampai rumah, gue baru sadar kalau spatbor gue pecah, dan dudukan plat nomornya hancur. Alhasil gue harus cari spatbor baru buat Scoopy.

Yah, namanya juga tukang ojek. Kalaupun bukan tukang ojek, ya kelakuannya yang tukang ojek.

Semoga gak ngalamin hal yang serupa ya, Bang. – View on Path.

This Is My Confession

This date, a year ago, was the first time we knew each other. Or, to be exact, was the first time you replied my WhatsApp message and the first time I introduced myself to you. Although I knew that you already knew me a little from our friend —or maybe from stalking activity—, and so did I. 

Our friend, yeah our friend, let’s called him Roy, was a man —I thought— who should take the credit for that. He gave me your number, after told me that he had a (high quality) single friend, (but too bad she was) abroad.

At that time, I just felt like “It’s okay, we can be friend. Distance is not a big deal for friendship.”. In my opinion, some friendships between man and woman, is about togetherness until someone falls in love. They will become lover, or back to stranger. 

But I don’t wanna talk bout friendship at this post, —because we are already a couple of lovers— I just wanna make some confessions here. 

  1. When our friend introduced you to me, or me to you, or whatever, —because you to me are everything, the sweetest song I can sing oh baby— he already introduced me to other girl too. And I have texted her, but luckily, I didn’t get the “click” from her.
  2. At the time I approached you, actually I had some girls that approached me [Insert SFX “EJIEEE!” here], or vice versa, I forgot it. Still, I didn’t get the “click” from them. I can counted myself lucky here.

Approaching you, maybe is like gamble for some people, because the distance. But when I got that “click” after several messages on WhatsApp, I didn’t feel that I was on gambling table. I felt like I was on the right running track, competing with the distance. And it occurred repeatedly, when we were away. 

Now, I —or I can called we— stood here (well, actually sitting on my bed while writing this) after beat the distance. We are the winner of this love game, (because we didn’t hurry love, and wait for the good time to embrace), we are the LDR survivor. 

FYI, I can drive a car, but I let Hana did, because she wanted to smooth her driving skill.

In the end of this post, I wanna tell you about my last confession. I love you so much, and I want to 

*lost connection* 

useyourgarbage:

Dear Bang, Akang, Aa’, Mas Arif Rahman yang selalu punya senyum menawan.

Sebelumnya mari kita buat kesepakatan dulu. Dalam surat ini saya boleh panggil kamu pake sapaan Mas ya?Karena saya orang Jawa , Mas dalam bahasa Jawa itu  berarti kakak laki-laki. Kalau diliat-liat sih  Mas Arif ini keliatannya lebih tua dari saya, jadi lebih cocok kan dipanggil mas dibanding dengan Pak, Cak, atau Min ( panggilan sayang untuk Admin)

Pepatah basi bilang tak kenal maka tak sayang, tapi nyatanya kalau udah kenalan belum tentu juga disayang kan, Mas? Tapi lebih pahit juga di sayang tapi tak di kenal. Jadi kenalannya cukup lewat akun twitter dan tumblr saya saja ya Mas. Kalau memang mau lebih intens lagi, mungkin bisalah DM an sambil tukar no ponsel dan rekening.

Cinta pandangan pertama nggak ada di dalam kamus saya untuk Mas Arif, tapi Cinta pada tulisan pertama yang buat saya menaruh hati ke Mas Arif. Sampai-sampai kalau baca tulisan Mas arif saya bertanya-tanya, Kapan Mas Arif mengajak saya sebagai partner Travelling ke Masa depannya?

Saya ini salah satu pembaca setia backpackstory.me lo Mas. Mungkin diantara ratusan dan jutaan pembaca yang komentar di blogmu terselip 2-3 komen dari saya yang kebetulan nggak penting tapi cuma sekedar supaya bisa interaksi sama Mas Arif. Saya juga satu dari sekian juta pembaca yang sedikit patah hati dan bahagia membaca cerita cinta di Derawan   karena akhirnya Mas Arif menemukan tempat “love travelling” sesungguhnya. Saya ikut bahagia kok mas.. sungguh.. aku rapopo kok Mas.

( Sayup-sayup lagu Utha Likumahuwa ft Trie Utami - Mungkinkah Terjadi  mengiringi surat ini )

Saya masih ingat pemberian dari Mas Arif buku Rasa Cinta yang bikin kelaperan setiap membaca buku itu. Giirang sekali rasanya waktu paket itu datang ke rumah, serasa garis takdir mendekatkan kita. Dulu saya janji ke Mas Arif untuk membuat review buku Rasa Cinta begitu menerima paket itu. Tapi review belum di tulis buku sudah berpindah tangan  ke sana sini dan akhirnya di pinjam pac… yang accidentally tanpa rencana jadi man…. ( silahkan isi titik- titik itu sendiri Mas, saya nggak sanggup ) Pada akhirnya buku itu nggak pernah kembali lagi ke tangan saya, seperti tak kembalinya …. ah sudahlah. Maafkan saya Mas yang nggak bisa menjaga amanahmu dengan baik, mungkin itu juga Tuhan nggak memasangkan kita jadi partner travelling ke masa depan bersama sama.  Tuhan tahu mana partner terbaik untuk kita Mas.

Walaupun saya bukan penjaga amanah yang baik tapi saya pembaca yang baik dan budiwoman kok Mas Arif. Oya mas Arif kamu tetap travel blogger kesayangan saya diantara jejeran nama travel blogger lain.Siapa lagi travel blogger yang punya Mamacation dan senyum paling menawan ketika lagi kayang. Mungkin bisa di coba gaya lain selain kayang Mas arif, siapa tahu senyumnya bisa lebih menawan lagi.

Sekilas kalau dibaca surat ini isinya bukan 100% surat cinta. Tapi yang jelas saya buatnya pakai cinta kok ini Mas, special nggak pake gombal. Semoga Mas Arif terhibur dengan datangnya surat di tab mention Mas Arif.

Akhir kata, saya mau buat pantun yang mainstream di jaman SD

4 kali 4 sama dengan 16,sempat tidak sempat harus dibalas.

Salam Kenal and Let’s make friend, Mas Arif Rahman.

dari pembaca, penggemar, pengagummu yang paling budiwoman

Ah, I got this beautiful letter from Skar Galuh :’) Many thanks for your letter, let’s be friend, Skar! 

= CUPBENTO =


Tadi siang, saya dan seorang teman kantor mampir ke Teras Benhil, penginnya sih makan di Holycow. Pas di pintu masuk, ada seorang pelayan memberikan selebaran Restoran Korea baru di Teras Benhil, namanya Cupbento.

Ketika sampai di lantai si Holycow,  ternyata tempatnya penuh dan sampai waiting list, maka kami pun memutuskan untuk mencoba Cupbento yang terletak di lantai yang sama. Lokasinya di sudut, dan untuk mencapainya kami harus melewati sebuah toko cake yang sepi tanpa pengunjung. Karena lokasi sudut inilah, resto ini memiliki balkon dan outdoor area dengan pemandangan Jalan Bendungan Hilir Raya. Sepertinya strategis, namun ketika sampai di sana, restoran tersebut sepi pengunjung dan hanya ada tiga orang pelayan wanita yang keep smile (baca: tetap tersenyum), tanpa terpengaruh YKS.

Saat kami menanyakan, apa menu favoritnya, mereka menyarankan untuk memesan Daebak Set nomor 5 atau 6. Karena penasaran, kami pun mencobanya. Sistem pembelian di restoran ini sama seperti di Hoka Hoka Bento, dengan menggunakan nampan, pembeli memilih menu, sebelum menuju kasir. Dan seperti biasa, para pelayan akan menawarkan berbagai pilihan menu lain ke pembeli.

Saya sedikit kecewa, karena Korean side dish yang seharusnya dihidangkan menjadi satu kesatuan dalam paket, ternyata tidak tersedia. Dan ketika diminta, pelayan cuma bilang tak ada gantinya, karena itu cuma complement. Saya yang sudah meng-upgrade nasi ke Korean Black Rice dan memesan Korean Cold Tea pun bersungut ketika membayar.

Jadi total pesanan saya saat itu adalah Korean Black Rice + Bulgogi Chicken + Korean Crispy Chicken Sweet & Spicy + Cold Koran Cold Tea. Rasanya enak sih, nasinya pulen, bulgoginya pas, dan asam manis ayamnya juga membuat saya pengin nambah terus. Namun mengingat harga yang harus saya bayar cukup tinggi, yaitu Rp. 61.000,- ya menurut saya ini overpriced.

Selesai makan, pelayan menyodorkan angket kepada saya mengenai kepuasan konsumen —berhubung restoran ini masih baru—. Saya menjawab kalau bisa ada diskon dan paket, dan pada pertanyaan “Apakah akan kembali lagi?” saya mencontreng kolom “Iya” dengan alasan “Jika ditraktir”. – View on Path.

= CUPBENTO =


Tadi siang, saya dan seorang teman kantor mampir ke Teras Benhil, penginnya sih makan di Holycow. Pas di pintu masuk, ada seorang pelayan memberikan selebaran Restoran Korea baru di Teras Benhil, namanya Cupbento.

Ketika sampai di lantai si Holycow, ternyata tempatnya penuh dan sampai waiting list, maka kami pun memutuskan untuk mencoba Cupbento yang terletak di lantai yang sama. Lokasinya di sudut, dan untuk mencapainya kami harus melewati sebuah toko cake yang sepi tanpa pengunjung. Karena lokasi sudut inilah, resto ini memiliki balkon dan outdoor area dengan pemandangan Jalan Bendungan Hilir Raya. Sepertinya strategis, namun ketika sampai di sana, restoran tersebut sepi pengunjung dan hanya ada tiga orang pelayan wanita yang keep smile (baca: tetap tersenyum), tanpa terpengaruh YKS.

Saat kami menanyakan, apa menu favoritnya, mereka menyarankan untuk memesan Daebak Set nomor 5 atau 6. Karena penasaran, kami pun mencobanya. Sistem pembelian di restoran ini sama seperti di Hoka Hoka Bento, dengan menggunakan nampan, pembeli memilih menu, sebelum menuju kasir. Dan seperti biasa, para pelayan akan menawarkan berbagai pilihan menu lain ke pembeli.

Saya sedikit kecewa, karena Korean side dish yang seharusnya dihidangkan menjadi satu kesatuan dalam paket, ternyata tidak tersedia. Dan ketika diminta, pelayan cuma bilang tak ada gantinya, karena itu cuma complement. Saya yang sudah meng-upgrade nasi ke Korean Black Rice dan memesan Korean Cold Tea pun bersungut ketika membayar.

Jadi total pesanan saya saat itu adalah Korean Black Rice + Bulgogi Chicken + Korean Crispy Chicken Sweet & Spicy + Cold Koran Cold Tea. Rasanya enak sih, nasinya pulen, bulgoginya pas, dan asam manis ayamnya juga membuat saya pengin nambah terus. Namun mengingat harga yang harus saya bayar cukup tinggi, yaitu Rp. 61.000,- ya menurut saya ini overpriced.

Selesai makan, pelayan menyodorkan angket kepada saya mengenai kepuasan konsumen —berhubung restoran ini masih baru—. Saya menjawab kalau bisa ada diskon dan paket, dan pada pertanyaan “Apakah akan kembali lagi?” saya mencontreng kolom “Iya” dengan alasan “Jika ditraktir”. – View on Path.

Ribetnya Prosedur Pembatalan Tiket Kereta Api di Indonesia


Karena suatu hal, sebut saja banjir, saya bermaksud membatalkan tiket kereta api kelas ekonomi AC yang sudah saya pesan sebelumnya. Dan saya pun mendatangi stasiun Semarang Poncol —karena Stasiun Besar Tawang— sedang terendam banjir.

Saya masuk ke ruangan Customer Service, mengantri di belakang dua orang, sebelum menanyakan bagaimana prosedur pembatalannya. Seorang wanita manis di sana, bertanya kepada saya, dengan aksen Jawanya: “Kereta apa, Mas? Untuk kapan?”
“Kereta Menoreh, untuk nanti malam.” Jawab saya sambil memberikan tiket yang sudah saya cetak (dari hasil pembelian online) pada hari sebelumnya.
“Ada fotokopi KTP?” Tanyanya lagi.
“Wah, ya gak ada.” Saya sempat malas bahwa akan diminta fotokopi terlebih dahulu, namun wanita manis itu kemudian memberitahukan bahwa dia yang akan memfotokopi KTP saya. Syukurlah.
Setelah itu, dia menuliskan sesuatu pada sebuah kertas, form pembatalan, dan menanyakan bagaimana saya mau uangnya dikembalikan, maksudnya tunai atau transfer.
“Transfer saja deh, Mbak.” Saya menjawab, dan kemudian menuliskan nomor rekening dan nama bank pada kertas itu. Setelah menandatangani form itu, dia meminta saya supaya mengantri di loket mana saja yang kosong. Kini di tangan saya ada form pembatalan (tindasan), fotokopi KTP, dan tiket kereta yang akam dibatalkan.

Saya menempatkan diri pada sebuah antrian pendek, sebelum akhirnya sadar bahwa KTP saya tertinggal di ruang customer service. Dan saya pun segera kembali untuk mengambilnya.
“Ada KTP ketinggalan, Mbak?” Tanya saya pada wanita manis lain yang berada di situ.
“Oh, ada, Mas.” Jawabnya, yang disusul gerakan wanita pertama mengambil KTP asli saya dari dalam printer. 
“Terima kasih.” Kata saya sambil bergerak balik ke antrian loket.

Setelah tiba giliran saya, saya mengungkapkan maksud pembatalan saya sambil menyerahkan dokumen di tangan kepada wanita kurang manis di dalam loket. Dia bertanya “Pengembaliannya mau ditransfer, Mas?”
Saya mengangguk, sebelum menggeleng mendengar perkataan dia berikutnya “Bawa fotokopi buku tabungan, Mas?”
“Hah?” Saya terkejut. “Apa harus pakai fotokopi buku tabungan, Mbak?”
“Iya Mas, prosedurnya begitu.” Jawab si wanita kurang manis. “Ini saya buat tunai saja ya pengembaliannya.” Lanjutnya lagi.
Belum sempat saya berpikir, wanita kurang manis tersebut sudah menanyakan pertanyaan berikutnya “Mau diambil di stasiun mana uangnya, Mas?”
Saya yang masih bengong pun menjawab sekenanya “Gambir.” Mengingat itu adalah stasiun besar yang nyaman untuk dikunjungi. 
“Okay.” Sahutnya lagi sambil mencetak tanda terima untuk saya. “Ini bisa diambil dalam 30 hari ke depan, dan jangan sampai hilang tanda terimanya.” Dia menyerahkan kertas tindasan form pengembalian, yang di baliknya telah dicetak tanda terima. Tak lupa dia membubuhkan stempel Stasiun Poncol pada kertas itu. 
Saya melihat nominal yang tertera, ternyata pengembalian yang saya dapat dipotong sekitar 50.000 dari harga tiket yang saya bayarkan.

Saya pun meninggalkan loket, sambil menset reminder di telepon genggam untuk mengambil uang saya 30 hari kemudian, dan menyimpan tanda terima lusuh tersebut dalam dompet sambil berharap tidak hilang. – View on Path.

Ribetnya Prosedur Pembatalan Tiket Kereta Api di Indonesia


Karena suatu hal, sebut saja banjir, saya bermaksud membatalkan tiket kereta api kelas ekonomi AC yang sudah saya pesan sebelumnya. Dan saya pun mendatangi stasiun Semarang Poncol —karena Stasiun Besar Tawang— sedang terendam banjir.

Saya masuk ke ruangan Customer Service, mengantri di belakang dua orang, sebelum menanyakan bagaimana prosedur pembatalannya. Seorang wanita manis di sana, bertanya kepada saya, dengan aksen Jawanya: “Kereta apa, Mas? Untuk kapan?”
“Kereta Menoreh, untuk nanti malam.” Jawab saya sambil memberikan tiket yang sudah saya cetak (dari hasil pembelian online) pada hari sebelumnya.
“Ada fotokopi KTP?” Tanyanya lagi.
“Wah, ya gak ada.” Saya sempat malas bahwa akan diminta fotokopi terlebih dahulu, namun wanita manis itu kemudian memberitahukan bahwa dia yang akan memfotokopi KTP saya. Syukurlah.
Setelah itu, dia menuliskan sesuatu pada sebuah kertas, form pembatalan, dan menanyakan bagaimana saya mau uangnya dikembalikan, maksudnya tunai atau transfer.
“Transfer saja deh, Mbak.” Saya menjawab, dan kemudian menuliskan nomor rekening dan nama bank pada kertas itu. Setelah menandatangani form itu, dia meminta saya supaya mengantri di loket mana saja yang kosong. Kini di tangan saya ada form pembatalan (tindasan), fotokopi KTP, dan tiket kereta yang akam dibatalkan.

Saya menempatkan diri pada sebuah antrian pendek, sebelum akhirnya sadar bahwa KTP saya tertinggal di ruang customer service. Dan saya pun segera kembali untuk mengambilnya.
“Ada KTP ketinggalan, Mbak?” Tanya saya pada wanita manis lain yang berada di situ.
“Oh, ada, Mas.” Jawabnya, yang disusul gerakan wanita pertama mengambil KTP asli saya dari dalam printer.
“Terima kasih.” Kata saya sambil bergerak balik ke antrian loket.

Setelah tiba giliran saya, saya mengungkapkan maksud pembatalan saya sambil menyerahkan dokumen di tangan kepada wanita kurang manis di dalam loket. Dia bertanya “Pengembaliannya mau ditransfer, Mas?”
Saya mengangguk, sebelum menggeleng mendengar perkataan dia berikutnya “Bawa fotokopi buku tabungan, Mas?”
“Hah?” Saya terkejut. “Apa harus pakai fotokopi buku tabungan, Mbak?”
“Iya Mas, prosedurnya begitu.” Jawab si wanita kurang manis. “Ini saya buat tunai saja ya pengembaliannya.” Lanjutnya lagi.
Belum sempat saya berpikir, wanita kurang manis tersebut sudah menanyakan pertanyaan berikutnya “Mau diambil di stasiun mana uangnya, Mas?”
Saya yang masih bengong pun menjawab sekenanya “Gambir.” Mengingat itu adalah stasiun besar yang nyaman untuk dikunjungi.
“Okay.” Sahutnya lagi sambil mencetak tanda terima untuk saya. “Ini bisa diambil dalam 30 hari ke depan, dan jangan sampai hilang tanda terimanya.” Dia menyerahkan kertas tindasan form pengembalian, yang di baliknya telah dicetak tanda terima. Tak lupa dia membubuhkan stempel Stasiun Poncol pada kertas itu.
Saya melihat nominal yang tertera, ternyata pengembalian yang saya dapat dipotong sekitar 50.000 dari harga tiket yang saya bayarkan.

Saya pun meninggalkan loket, sambil menset reminder di telepon genggam untuk mengambil uang saya 30 hari kemudian, dan menyimpan tanda terima lusuh tersebut dalam dompet sambil berharap tidak hilang. – View on Path.

Nyobain Kedai Beringin yang —kata Mama— lagi hits di Semarang. Dan pas ke sini memang ramai dan kebanyakan pengunjung beretnis China. Kata orang, resto enak itu adalah yang ramai oleh orang keturunan China. Dan saya pun berekspektasi tinggi.

Kami pesan:
- Tauge Ikan Asin
- Belut Asam Manis
- Siomay Udang
- Sayap ayam tepung
- Es Beringin (special beverage)
- Teh tawar & teh tarik

Selain harganya yang miring dan terjangkau, penilaian saya lainnya:
- Tauge Ikan Asin: kurang asin
- Belut Asam Manis: terlalu asam
- Siomay Udang: bumbunya kurang pas
- Sayap Ayam Tepung: terlalu tawar, dan kurang suka penyajiannya
- Es Beringin: saya menemukan sehelai rambut —sepertinya kelopak mata, entah siapa yang kangen— di dalamnya
- Teh tawar & teh tarik: standar lah, tapi kata Mama teh tariknya enak.

Lesson learned: Gak semua resto yang ramai dikunjungi orang-orang keturunan China rasanya pas di lidah. at Kedai Beringin – View on Path.

Nyobain Kedai Beringin yang —kata Mama— lagi hits di Semarang. Dan pas ke sini memang ramai dan kebanyakan pengunjung beretnis China. Kata orang, resto enak itu adalah yang ramai oleh orang keturunan China. Dan saya pun berekspektasi tinggi.

Kami pesan:
- Tauge Ikan Asin
- Belut Asam Manis
- Siomay Udang
- Sayap ayam tepung
- Es Beringin (special beverage)
- Teh tawar & teh tarik

Selain harganya yang miring dan terjangkau, penilaian saya lainnya:
- Tauge Ikan Asin: kurang asin
- Belut Asam Manis: terlalu asam
- Siomay Udang: bumbunya kurang pas
- Sayap Ayam Tepung: terlalu tawar, dan kurang suka penyajiannya
- Es Beringin: saya menemukan sehelai rambut —sepertinya kelopak mata, entah siapa yang kangen— di dalamnya
- Teh tawar & teh tarik: standar lah, tapi kata Mama teh tariknya enak.

Lesson learned: Gak semua resto yang ramai dikunjungi orang-orang keturunan China rasanya pas di lidah. at Kedai Beringin – View on Path.

Mya Kantha Motel, New Bagan.

Twin room plus extra bed for USD 45.

Plus: Hot water, HBO, Wooden floor (I like it), reasonable price among others in New Bagan, friendly staffs, blanket and towel, refrigerator. 

Minus: Little bit far from main objects, only have 3 TV channels, room too narrow for 3 persons, slow WiFi connection. at Mya Kantha Motel – View on Path.

Mya Kantha Motel, New Bagan.

Twin room plus extra bed for USD 45.

Plus: Hot water, HBO, Wooden floor (I like it), reasonable price among others in New Bagan, friendly staffs, blanket and towel, refrigerator.

Minus: Little bit far from main objects, only have 3 TV channels, room too narrow for 3 persons, slow WiFi connection. at Mya Kantha Motel – View on Path.

And these are what we got for breakfast at Rich Queen Hotel Mandalay (the interesting point is they used local house as their dining room).
- Cakwe
- Banana
- Half Boiled Egg
- Toast
- Milk tea with Okamura and Hardi at Rich Queen – View on Path.

And these are what we got for breakfast at Rich Queen Hotel Mandalay (the interesting point is they used local house as their dining room).
- Cakwe
- Banana
- Half Boiled Egg
- Toast
- Milk tea with Okamura and Hardi at Rich Queen – View on Path.

Rich Queen Hotel, Mandalay.

We took the triple room for USD 35 (after haggled from USD 40), not our first choice —previously it was Royal Guesthouse Mandalay— but our taxi driver recommended this place.

Overall, this hotel is good. They have large room, spacious place, AC, hot water, many sockets, LCD TV, blanket, breakfast, free wifi on lobby, and friendly staffs. The minus is, no towel, and lack of staffs who are fluent in English. with Okamura and Hardi at Rich Queen – View on Path.

Rich Queen Hotel, Mandalay.

We took the triple room for USD 35 (after haggled from USD 40), not our first choice —previously it was Royal Guesthouse Mandalay— but our taxi driver recommended this place.

Overall, this hotel is good. They have large room, spacious place, AC, hot water, many sockets, LCD TV, blanket, breakfast, free wifi on lobby, and friendly staffs. The minus is, no towel, and lack of staffs who are fluent in English. with Okamura and Hardi at Rich Queen – View on Path.

Kemarin ada pertunjukan dance di Colmar Tropicale, terus setelah beberapa lagu, diputarlah lagu LMFAO, dan para penari mulai menarik penonton untuk berjoget bareng.
Ya, gue yang duduk di depan, pun kena. Disuruh ngikutin gerakan dia, muter-muter panggung, terus joget-joget sambil tepuk tangan.
Gue bangga, setingkat lebih keren dari Goyang Caesar. – View on Path.

Kemarin ada pertunjukan dance di Colmar Tropicale, terus setelah beberapa lagu, diputarlah lagu LMFAO, dan para penari mulai menarik penonton untuk berjoget bareng.
Ya, gue yang duduk di depan, pun kena. Disuruh ngikutin gerakan dia, muter-muter panggung, terus joget-joget sambil tepuk tangan.
Gue bangga, setingkat lebih keren dari Goyang Caesar. – View on Path.

Sunshine Bedz Hostel Kuala Lumpur.

Good: Best location, in the center of Bukit Bintang. Cheap price. Provide towel and blanket. No need to wash the dishes after breakfast. Fast wifi.

Bad: No socket near the bunk bed. Provide locker but without the key so you have to bring your own padlock. Wifi only works on the lobby. at Sunshine Bedz KL – View on Path.

Sunshine Bedz Hostel Kuala Lumpur.

Good: Best location, in the center of Bukit Bintang. Cheap price. Provide towel and blanket. No need to wash the dishes after breakfast. Fast wifi.

Bad: No socket near the bunk bed. Provide locker but without the key so you have to bring your own padlock. Wifi only works on the lobby. at Sunshine Bedz KL – View on Path.

Free Hit Counters
Web Site Hit Counters